Berita

29 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ini Prosedur Ekspor Barang ke LN dengan Kapal Kontainer

Di zaman serba terkoneksi ini, pengiriman barang dari satu negara ke negara lain sudah tidak susah lagi. Kemudahan ini dirasakan sangat menguntungkan bagi pengusaha yang ingin barang atau jasanya dipasarkan hingga ke manca negara. Meski demikian, ada beberapa hal yang wajib dipahami oleh calon eksportir agar tidak ada masalah dalam bisnisnya.

Kegiatan ekspor barang merupakan sistem perdagangan yang memungkinkan seseorang mengadakan trading lintas negara. Saat ini pemerintah berupaya meningkatkan devisa dengan menggenjot arus ekspor barang. Prosedur ekspor sebenarnya lebih mudah daripada kegiatan prosedur impor karena saat ini lebih banyak aturan yang mengatur tentang impor daripada tentang ekspor, terutama untuk masalah pembayaran pajak.

Pada kegiatan impor hampir semua barang dikenakan bea masuk dan pajak impor lainnya, sedangkan pada saat ekspor lebih banyak barang yang tidak dikenakan pajak ekspor maupun bea keluar. Untuk pajak ekspor yang dikenakan diantaranya pada kegiatan ekspor kayu, rotan, juga CPO (crude palm oil). 

Yang pertama dilakukan dan paling penting adalah memastikan  bahwa barang yang akan diekspor tersebut termasuk barang yang tidak dilarang untuk di ekspor. Selain itu juga emastikan juga apakah barang Anda diperbolehkan untuk masuk ke negara tujuan ekspor.

Di saat  bersamaan, Anda bisa mencari pembeli (buyer) di luar negeri. Setelah ada kesepakatan, baik jumlah pembelian, quantity, spek  barang dan  lainnya maka Anda bisa mulai mempersiapkan  barang yang akan diekspor berikut dokumen-dokumennya sesuai kesepakatan dengan buyer.

Melakukan pemberitahuan pabean kepada pemerintah (Bea Cukai) dengan menggunakan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) beserta dokumen pelengkapnya, antara lain;

1. Data Eksportir

2. Data penerima barang 

3. Data Customs Broker (bila ada)

4. Sarana kapal yang akan mengangkut

5. Negara Tujuan

6. Detil barang, seperti jumlah dan jenis barang, dokumen yang menyertai, No kontainer yang dipakai.

Setelah eksportasi Anda disetujui oleh Bea Cukai, maka akan diterbitkan dokumen NPE (Nota Persetujuan Ekspor). Jika sudah terbit NPE, maka secara hukum barang Anda sudah dianggap sebagai barang ekspor.

Setelah itu, Anda harus siap melakukan stuffing dan mengapalkan barang Anda sesuai kapal yang sudah dipesan sebelumnya.

Jangan abaikan untuk langsung mengasuransikan barang/kargo Anda untuk antisipasi segala kemungkinan terburuk. 

Ekspor Barang ke luar negeri mempunyai prospek yang cukup menjanjikan khususnya di bidang agrobisnis, apalagi Prosedur Ekspor cukup mudah. Wilayah indonesia yang kaya dengan alam dan mineral berpotensi untuk menyerap banyak lapangan kerja. Namun alangkah baiknya jika Anda melakukan Ekspor barang yang sudah jadi sehingga nilai ekonomisnya lebih tinggi dibanding bahan mentah. (*)

29 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ini Prosedur Ekspor Barang ke LN dengan Kapal Kontainer

Di zaman serba terkoneksi ini, pengiriman barang dari satu negara ke negara lain sudah tidak susah lagi. Kemudahan ini dirasakan sangat menguntungkan bagi pengusaha yang ingin barang atau jasanya dipasarkan hingga ke manca negara. Meski demikian, ada beberapa hal yang wajib dipahami oleh calon eksportir agar tidak ada masalah dalam bisnisnya.

Kegiatan ekspor barang merupakan sistem perdagangan yang memungkinkan seseorang mengadakan trading lintas negara. Saat ini pemerintah berupaya meningkatkan devisa dengan menggenjot arus ekspor barang. Prosedur ekspor sebenarnya lebih mudah daripada kegiatan prosedur impor karena saat ini lebih banyak aturan yang mengatur tentang impor daripada tentang ekspor, terutama untuk masalah pembayaran pajak.

Pada kegiatan impor hampir semua barang dikenakan bea masuk dan pajak impor lainnya, sedangkan pada saat ekspor lebih banyak barang yang tidak dikenakan pajak ekspor maupun bea keluar. Untuk pajak ekspor yang dikenakan diantaranya pada kegiatan ekspor kayu, rotan, juga CPO (crude palm oil). 

Yang pertama dilakukan dan paling penting adalah memastikan  bahwa barang yang akan diekspor tersebut termasuk barang yang tidak dilarang untuk di ekspor. Selain itu juga emastikan juga apakah barang Anda diperbolehkan untuk masuk ke negara tujuan ekspor.

Di saat  bersamaan, Anda bisa mencari pembeli (buyer) di luar negeri. Setelah ada kesepakatan, baik jumlah pembelian, quantity, spek  barang dan  lainnya maka Anda bisa mulai mempersiapkan  barang yang akan diekspor berikut dokumen-dokumennya sesuai kesepakatan dengan buyer.

Melakukan pemberitahuan pabean kepada pemerintah (Bea Cukai) dengan menggunakan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) beserta dokumen pelengkapnya, antara lain;

1. Data Eksportir

2. Data penerima barang 

3. Data Customs Broker (bila ada)

4. Sarana kapal yang akan mengangkut

5. Negara Tujuan

6. Detil barang, seperti jumlah dan jenis barang, dokumen yang menyertai, No kontainer yang dipakai.

Setelah eksportasi Anda disetujui oleh Bea Cukai, maka akan diterbitkan dokumen NPE (Nota Persetujuan Ekspor). Jika sudah terbit NPE, maka secara hukum barang Anda sudah dianggap sebagai barang ekspor.

Setelah itu, Anda harus siap melakukan stuffing dan mengapalkan barang Anda sesuai kapal yang sudah dipesan sebelumnya.

Jangan abaikan untuk langsung mengasuransikan barang/kargo Anda untuk antisipasi segala kemungkinan terburuk. 

Ekspor Barang ke luar negeri mempunyai prospek yang cukup menjanjikan khususnya di bidang agrobisnis, apalagi Prosedur Ekspor cukup mudah. Wilayah indonesia yang kaya dengan alam dan mineral berpotensi untuk menyerap banyak lapangan kerja. Namun alangkah baiknya jika Anda melakukan Ekspor barang yang sudah jadi sehingga nilai ekonomisnya lebih tinggi dibanding bahan mentah. (*)

27 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Waspada Marine Heatwave, Picu Cuaca Buruk dan Badai

Fenomena baiknya suhu permukaan air laut sudah merambah hingga Indonesia. Fenomena yang dikenal sebagai Marine Heatwave (MHW) ini terjadi ketika suhu permukaan laut meningkat jauh di atas normal dan bertahan selama lebih dari lima hari berturut-turut. Ini mengakibatkan perairan Indonesia menjadi rentan terhadap  cuaca ekstrem beberapa hari belakangan ini.

Menurut infomasi yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu laut di perairan Indonesia mengalami kenaikan rata-rata sekitar 0,19 derajat Celsius setiap 10 tahun. Laju kenaikan ini berada di atas angka kenaikan suhu laut global.
Salah satu kejadian MHW ekstrem di Indonesia tercatat pada peristiwa NA 2016, di mana suhu laut mencapai 1,5 hingga 2 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan suhu rata-ratanya. Selain Indonesia, fenomena serupa juga tercatat di berbagai wilayah dunia seperti Tasmania (2017), Laut China Timur (2016), Pasifik Timur Laut (2015), serta Peru (2017).

Pemanasan suhu laut akibat MHW berdampak langsung terhadap dinamika atmosfer dan lautan.
Seperti diketahui, lautan yang lebih hangat berfungsi sebagai bahan bakar bagi badai atau siklon tropis, sehingga sistem cuaca ekstrem berpotensi menjadi lebih kuat dan destruktif.

Kondisi MHW dapat memicu penguatan angin monsun yang menyebabkan frekuensi dan intensitas hujan menjadi lebih tinggi. Fenomena ini juga mengganggu proses upwelling, yaitu pergerakan naiknya air laut dingin yang kaya nutrien dari dasar laut ke permukaan.

Terganggunya upwelling menyebabkan nutrien dan zooplankton tertahan di lapisan laut dalam. Kondisi tersebut membuat ikan enggan mendekat ke perairan pesisir sehingga hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan. Selain itu, suhu laut yang menghangat dapat memicu pergeseran arah arus laut dalam yang memengaruhi pola sirkulasi laut secara luas.

Marine heatwave membawa dampak serius bagi ekosistem, salah satunya adalah pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Kenaikan suhu laut menyebabkan mikroalga yang bersimbiosis dengan karang terlepas, sehingga karang kehilangan sumber makanan dan berisiko mati.

Kenaikan suhu juga memicu migrasi ikan ke perairan yang lebih sejuk, yang mengakibatkan populasi ikan di titik-titik tertentu menurun. Fenomena ini juga berisiko menyebabkan kematian masal pada invertebrata laut, ikan, burung laut, hingga mamalia laut. Tanaman laut seperti kelp dan rumput laut turut terdampak, sehingga fauna laut herbivora kehilangan sumber makanan alaminya.

Dampak MHW dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir melalui penurunan pendapatan nelayan akibat perubahan distribusi ikan. Dalam jangka panjang, fenomena ini dapat mengancam industri perikanan nasional serta ketahanan pangan laut.

Sektor pariwisata bahari juga menghadapi ancaman seiring berkurangnya kualitas terumbu karang dan spot menyelam yang menurunkan daya tarik wisata pantai. Di sisi lain, peningkatan potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan ekstrem, banjir, dan badai menambah risiko bagi masyarakat baik di wilayah pesisir maupun daratan.(*)

26 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Awas Cuaca Buruk, Ini Daftar Perairan yang Terjadi Gelombang Tinggi

Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat yang beraktifitas di laut untuk meningkatkan kewaspadaan. Ini mengingat cuaca ekstrem yang mengakibatkan gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia. Di mana saja itu? Berikut laporannya.

Dalam laporannya, BMKG menjelaskan bahwa potensi gelombang tinggi 4 meter tersebut terjadi mulai 27 sampai 30 Januari 2026. BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut berisiko pada keselamatan pelayaran dan aktivitas di laut.

Dijelaskan BMKG, terjadi perubahan pola angin di perairan utara dan selatan Bali yang bergerak dari arah barat-utara dengan kecepatan angin mencapai sekitar 25 knot (±46 km/jam). Kecepatan angin seperti ini bisa meningkatkan tinggi gelombang laut secara signifikan dalam beberapa hari mendatang.

Pola angin yang aktif itu menjadi faktor utama meningkatnya tinggi gelombang. Ketika angin kuat bertiup secara konsisten dari satu arah, energi angin akan memicu pembentukan gelombang laut yang lebih besar dari biasanya.

Kondisi ini bukan merupakan fenomena musiman semata, tetapi lebih kepada dinamika atmosfer dan laut yang saling berinteraksi.

Menurut prakiraan BMKG, wilayah yang diprediksi berpotensi mengalami gelombang yang mencapai 4 meter meliputi:
- Selat Badung
- Selat Bali bagian selatan
- Selat Lombok bagian selatan
- Perairan selatan Bali
Sementara itu, gelombang laut dengan ketinggian hingga 2,5-3 meter diperkirakan terjadi di:
- Perairan utara Bali
- Selat Lombok bagian utara

BMKG juga memgimbau semua pihak yang beraktivitas di laut agar mempertimbangkan untuk menunda kegiatan untuk keselamatan. (*)

25 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Selamat, 15 Hari Terjebak di Tengah Laut Tanpa Makanan-Minunan

Perjuangan 15 warga Filipina ini untuk bertahan hidup patut diapresiasi. Selama 15 hari mereka terombang-ambing di tengah laut tanpa makan dan minum. Apapun mereka lakukan untuk tetap bertahan hidup tanpa bekal makanan dan minuman di kapal. Akhirnya mereka berhasil selamat setelah ditemukan oleh nelayan Sulawesi.

Ke 15 orang Warga Negara Asing (WNA) dari Filipina ini terombang-ambing di tengah laut setelah speed boat yang mereka tumpangi dari Filipina mogok. Belasan hari mereka terjebak di tengah laut tanpa mampu meminta pertolongan orang lain. Hingga arus laut menyeret mereka hingga ke perairan laut Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia.

Dua orang lainnya dilaporkan terjun ke laut untuk mengurangi beban kapal, saat berada di tengah perairan.
Para korban diketahui terdiri dari 6 orang dewasa dan 9 orang anak-anak. Mereka diduga berasal dari Malaysia dan bermaksud menyeberang menuju Filipina.
Namun, akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi, speed boat yang mereka tumpangi kehilangan kendali hingga akhirnya hanyut dan terbawa arus, sampai ke wilayah perairan Sulawesi, tepatnya di laut Kabupaten Buol.

Korban pertama kali ditemukan pada pukul 08.00 Wita, di wilayah laut Buol sekitar 72 mil dari daratan, oleh seorang nelayan Buol bernama Cici warga Lingkungan Poyapi, Kelurahan Buol, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.

Saat itu, Cici tengah menuju rompong, lokasi yang biasa digunakan nelayan untuk memancing ikan, sebelum akhirnya melihat speed boat berisi para korban dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Berdasarkan keterangan para korban, selama 15 hari terombang-ambing di laut lepas, mereka bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas. Untuk makanan, para korban hanya mengonsumsi gabus dan potongan kayu yang hanyut di laut.

Sementara untuk minum mereka menunggu air hujan turun, bahkan sesekali terpaksa meminum air laut demi mempertahankan hidup.
Dalam upaya menyelamatkan diri, dua orang penumpang terpaksa terjun ke laut guna mengurangi beban speed boat agar tidak tenggelam. Selain itu, dua unit mesin tempel berkekuatan 40 PK juga dibuang ke laut untuk menjaga keseimbangan kapal di tengah gelombang besar.

Selain mengalami kelelahan ekstrem dan dehidrasi berat, seluruh korban juga dilaporkan mengalami luka bakar pada kulit akibat terik matahari, setelah berhari-hari terpapar panas tanpa perlindungan memadai selama berada di laut terbuka.

Setelah berhasil dievakuasi oleh nelayan dan pihak terkait, seluruh korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mokoyurli Kabupaten Buol, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan intensif. (*)

24 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

BRIN-OceanX Berhasil Petakan Struktur Gunung Bawah Laut Sulut

Eksplorasi bawah laut perairan Sulawesi Utara dilanjutkan ke leg ke-2 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim kapal penjelajah OceanX. Ada dua misi yang sukses dilaksanakan tik eksplorasi ini. Yaitu pemetaan struktur komunitas gunung bawah laut dan pendataan 14 spesies megafauna.

Ekspedisi ini sendiri dilaksanakan selama sekitar 15 hari sejak tanggal 5 hingga 24 Januari 2026. Di hari terakhir ini tim bergerak dari laut utara Sulawesi Utara menuju Pelabuhan Bitung.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN sekaligus Lead Scientist ekspedisi ini, Pipit Pitriana, mengatakan ekspedisi tersebut memperkaya data biodiversitas perairan Sulawesi Utara sebagai dasar rekomendasi kebijakan konservasi.

Melansir Brin.go.id, ekspedisi ini didukung hadirnya dua unit kapal selam berawak (submersible), Nadir dan Neptune, yang memiliki peran spesifik berbeda.

“Nadir yang difokuskan untuk mendukung aspek media dan dokumentasi visual, dan Neptune yang lebih diarahkan untuk saintifik,” ujar Ilham, peneliti dari Indo Ocean Foundation.

Nadir digunakan untuk merekam struktur komunitas di gunung bawah laut Sulawesi Utara melalui metode video transect.

Neptune dilengkapi dengan Niskin bottle untuk mengoleksi sampel air, lengan robotik yang mampu mengambil sampel biota laut, dan bio box untuk menjaga spesimen selama perjalanan naik ke permukaan untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium kapal.

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, berharap para periset mencatat dengan detail fasilitas di OceanX untuk menjadi referensi pengembangan kapal riset BRIN di masa depan.

“Saya berharap hasil penelitian ini terdokumentasi dengan baik dan semua sampel disimpan di repositori ilmiah nasional sesuai aturan. Kita akan melanjutkan penelitian ini menggunakan kapal penelitian kita sendiri dengan peralatan standar yang tidak boleh kalah canggih,” kata Amarulla.(*)

23 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pemkab Kepulauan Seribu Transplantasi Terumbu Karang yang Mulai Rusak

Untuk memperbaiki ekosistem bawah laut yang sudah rusak, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu mentransplantasi 100 bibit terumbu karang di perairan Pulau Pramuka, tepatnya di Area Pelindungan Laut (APL), Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara. Selain untuk kelestarian hayati, di masa depan, terumbu karang juga bisa menjadi salah satu obyek wisata bawah laut selama dikelola secara bertanggungjawab. 

Menurut Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Kepulauan Seribu, Nurliati, transplantasi terumbu karang ini merupakan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut di Kepulauan Seribu. 

"Terumbu karang itu punya peran vital bagi keanekaragaman hayati serta sebagai penyangga kehidupan masyarakat pesisir,” kata Nurliati.

Pemkab Kepulauan Seribu juga mengajak masyarakat dan wisatawan berperan aktif menjaga kelestarian laut dengan menerapkan aktivitas penangkapan ikan yang ramah lingkungan serta menjalankan wisata bahari yang bertanggung jawab.

Secara terpisah, Kasi Kelautan Sudin KPKP Kepulauan Seribu, Gama Eka Anantha, menjelaskan bahwa transplantasi dilakukan pada 100 bibit karang dengan metode tambal sulam di kawasan APL Pulau Pramuka.

“Jenis karang yang ditransplantasi ini karang keras (hard coral) dari jenis acropora. Kegiatan dilakukan lima personel dan nanti rutin dua kali sebulan,” kata Gama.

Menurutnya, kegiatan transplantasi karang ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan terumbu karang yang rusak serta meningkatkan kualitas ekosistem laut, khususnya di kawasan konservasi.

“Kalau terumbu karang sehat, keanekaragaman hayati laut di Kepulauan Seribu terus terjaga dan beri manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat,” kata Gama.

Data penelusuran ANTARA menyebutkan, luas ekosistem terumbu karang di kawasan Kepulauan Seribu secara keseluruhan sekitar 2.100 hektare (ha) di dalam total kawasan laut sekitar 107.000 ha.

Angka itu lebih merupakan estimasi luas area terumbu karang secara geografis daripada luas tutupan karang hidup yang dinamis dan berubah dari waktu ke waktu.

Luasan sebesar itu, disebut-sebut berada dalam total kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu seluas sekitar 107.489–108.000 ha, yang mencakup perairan laut dangkal, pulau-pulau kecil, hamparan karang dangkal dan zona laut lainnya. 

Hal itu sudah termasuk hamparan karang dangkal dan zona laut lainnya seluas sekitar 1.994 ha, laguna 119 a, selat 18 ha dan teluk lima ha yang merupakan struktur bentang terumbu karang di perairan dangkal. (*)

22 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Hiu Paus Terdampar di Selatan Jawa kian Marak

Kasus hiu paus mati terdampar di pesisir Selatan Pulau Jawa kian marak dalam tiga tahun terakhir. Yang terbaru adalah seekor hiu paus sepanjang 5,2 meter ditemukan mati terdampar di Pantai Pasir Puncu, Purworejo, Jawa Tengah. Total dalam tiga tahun terakhir tercatat 24 ekor hiu paus telah mati terdampar di sepanjang pesisir Selatan Pulau Jawa.

Menurut data LPSPL Serang Wilker Yogyakarta, puncak keterdamparan terjadi pada kuartal keempat setiap tahun, terutama Oktober-November.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Mochamad Iqbal Herwata Putra, menjelaskan bahwa fenomena oseanografi berupa upwelling penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas perairan menjadi magnet bagi hiu paus untuk mencari makan.
“Namun perubahan iklim dapat menggeser distribusi mangsa, memicu cuaca ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap kesehatan hiu paus,” ujar Iqbal.

Tak hanya faktor alamiah, ancaman antropogenik seperti pencemaran perairan, by-catch, dan tabrakan kapal juga menjadi pemicu utama. Pada kasus di Kebumen, misalnya, seekor hiu paus terbukti mengalami keracunan logam berat. Iqbal menilai, kondisi serupa sangat mungkin terjadi di Purworejo.

Kepala DLHP Purworejo, Wiyoto Harjono, mengatakan bahwa perubahan suhu dan salinitas laut dapat mengganggu navigasi hiu paus saat migrasi. Ia menambahkan, gangguan internal pada organ pencernaan dan pernapasan juga dapat membuat hiu kehilangan orientasi. (*)

20 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pembangunan Tanggul Laut Raksasa Jakarta Dimulai September

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan peletakan batu pertama (groundbreaking) Giant Sea Wall akan dilakukan pada bulan September mendatang.

Pramono juga mengatakan bahwa Jakarta sudah siap mengerjakan 19 kilometer bagian Giant Sea Wall sesuai arahan dari pemerintah pusat.

“Kami menunggu sepenuhnya arahan dari pemerintah pusat. Karena dulu Jakarta ini kebagian 12 kilo, tetapi kemarin ditambahkan tujuh menjadi 19. Mau 12, mau 19, Jakarta akan mengerjakan," kata Pramono.

Sebagai persiapan, Pramono mengatakan Jakarta kini sedang membangun "National Capital Integrated Coastal Development" (NCICD) sebagai upaya penanggulangan banjir rob. "Rencananya 'groundbreaking'-nya itu mulai bulan September tahun ini," katanya.
Pramono ingin pembangunan tanggul tersebut tak hanya tembok beton melainkan juga dibuatkan taman di sekitarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan bahwa Proyek Strategis Nasional Tanggul Laut Raksasa (Giant Sea Wall) siap dibangun membentang di Pantai Utara Jawa (Pantura) untuk melindungi 50 juta penduduk dari tingginya permukaan air laut.

Prabowo menjelaskan pembangunan tanggul laut raksasa sepanjang 535 kilometer di Pantura menjadi solusi pemerintah dalam menghadapi kenaikan air laut sekitar 5 centimeter per tahun akibat dampak perubahan iklim.
Prabowo menilai ancaman perubahan iklim sudah di depan mata. Selain itu, sebanyak 60 persen industri nasional berada di kawasan pantai utara Jawa.
Lahan sawah produktif yang menjadi lumbung pangan nasional juga dapat terancam jika tanggul laut tidak segera dibangun.

Prabowo menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi rakyat dan aset strategis bangsa. (*)

19 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Hoax, Hiu Paus Mati Terdampar di Pantai NTB

Viral di media sosial, kabar seekor hiu paus yang terdampar dan akhirnya mati di salah satu pantai di Nusa Tenggara Barat (NTB). Rupanya kabar itu dibantah oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB dan menegaskan bahwa berita tersebut salah atau hoax.

Dalam pernyataan resminya, BKSDA meluruskan informasi yang beredar terkait seekor hiu paus terdampar di pesisir pantai Desa Labuan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, NTB.

Pengendali Ekosistem Hutan Pos Pulau Satonda Taman Nasional Moyo Satonda, Bisri Mustofa, mengatakan hiu paus itu tidak mati lantaran berhasil kembali ke laut berkat bantuan penduduk setempat.
"Informasi yang menyebutkan hiu paus yang terdampar itu sudah mati, itu tidak benar. Hewan lindung tersebut masih hidup dan berhasil didorong kembali oleh warga sekitar ke dalam laut pada pagi hari," ujarnya dalam pernyataan yang diterima di Mataram, Minggu.

Bisri menjelaskan peristiwa hiu paus terdampar terjadi sekitar pukul 17.30 WITA pada 16 Januari 2026. Kondisi hiu paus saat itu masih hidup, namun tidak mampu kembali ke laut karena gelombang tinggi serta ukuran tubuh yang besar.

Hiu paus dengan panjang tubuh sekitar tujuh meter tersebut kemungkinan mengikuti gerombolan ikan teri yang melimpah di perairan setempat hingga akhirnya terjebak di bibir pantai.

"Kami dan warga setempat sempat berupaya mendorong hewan tersebut ke laut hingga pukul 23.30 WITA, namun tidak berhasil karena bobot yang sangat besar ditambah lagi gelombang cukup tinggi," kata Bisri.

Lebih lanjut ia menyampaikan spesies ikan terbesar di dunia tersebut terlihat tidak banyak bergerak saat malam hari, sehingga sempat menimbulkan dugaan bahwa hiu paus itu mati

Pada Sabtu (17/1) pagi, cuaca sempat memburuk dengan hujan lebat yang disertai angin kencang di lokasi hiu paus terdampak. Setelah cuaca membaik sekitar pukul 10.00 WITA, petugas balai kembali menuju lokasi, namun hiu paus sudah tidak ada di sana.

"Kami mendapatkan keterangan warga dan nelayan setempat, hewan tersebut masih hidup hingga pagi hari dan berhasil didorong kembali ke laut secara bersama-sama," pungkas Bisri.

BKSDA NTB mengapresiasi peran aktif masyarakat dan pemerintah desa yang cepat menanggapi kejadian hiu paus terdampar tersebut.
Hiu paus sering muncul di sekitar perairan Pulau Satonda saat musim ikan kecil.

Namun, peristiwa hiu paus terdampar di pantai merupakan kejadian pertama yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir. (*)

18 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Gawat, Pemanasan Global Tembus Laut Terdalam Arktik

Meski dunia sudah mewaspadai, namun bahaya pemanasan global masih belum bisa dihentikan. Yang terbaru, efek dari pemanasan global sudah menembus hingga laut terdalam di Samudera Arktik. Padahal selama ini wilayah laut terdalam Arktik dianggap relatif aman dari dampak pemanasan global.

Menurut hasil penelitian yang dilansir tim Ocean University of China, (18/1/2026), data terbaru tersebut berhasil dikumpulkan menggunakan kapal pemecah es. Data tersebut digunakan untuk mengukur suhu di kedalaman laut yang sebelumnya sangat jarang diteliti.

Dalam 40 tahun terakhir, luas es laut Arktik telah menyusut sekitar 40 persen. Penyebab utamanya adalah pemanasan atmosfer yang langsung memengaruhi permukaan laut. Kendati demikian, dampak tersebut ternyata jauh lebih dalam.

Dalam salah satu dari dua cekungan besar Samudera Arktik yaitu cekungan Eurasia, pada kedalaman 1.500 hingga 2.600 meter telah menghangat sekitar 0,074 derajat celsius sejak tahun 1990.

Meski angka peningkatan suhu terkesan kecil, namun pemanasan tersebut mewakili perpindahan energi hampir 500 triliun megajoule. Jika energi sebesar itu berada di permukaan laut, jumlahnya cukup untuk mencairkan hingga sepertiga luas minimum es laut Arktik.

"Laut dalam ternyata jauh lebih aktif daripada yang kita duga. Saya kira laut dalam bisa saja memanas, tapi tidak secepat ini," ucap anggota tim penelitian, Xianyao Chen.

Samudera Arktik terbagi menjadi dua cekungan besar oleh pegunungan bawah laut yang membentang dari Greenland hingga Siberia. Kedua wilayah ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Cekungan Amerasia relatif terisolasi dari Samudera Pasifik karena terhalang Selat Bering yang dangkal. Sementara itu, cekungan Eurasia menerima aliran air hangat dari Samudra Atlantik. Air hangat tersebut dibawa oleh sistem sirkulasi laut besar yang dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC). Arus ini mengalir dari Atlantik menuju utara, menyusuri pesisir Skandinavia, lalu masuk ke lapisan atas Arktik. (*)

15 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Suhu Air Laut Sepanjang Tahun 2025 Terpanas Sepanjang Sejarah

Sepanjang tahun 2025, suhu air laut di dunia tercatat di angka paling tinggi sepanjang sejarah. Hal ini menjadi peringatan semua negara bahwa pemanasan global akibat akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer benar-benar menjadi ancaman di masa datang.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Advances in Atmospheric Sciences, suhu laut sepanjang 2025 termasuk yang tertinggi yang pernah tercatat. Naiknya suhu air laut berkorelasi dengan pemanasan global karena sekitar 90% panas suhu permukaan bumi terserap oleh air laut. Sehingga hal itu menjadikan panas laut sebagai indikator penting perubahan iklim.

Studi tersebut juga mencatat bahwa suhu permukaan laut (SST) rata-rata tahunan global pada tahun 2025 adalah 0,49 °C di atas garis dasar 1981–2010 dan 0,12 ± 0,03 °C lebih rendah daripada tahun 2024.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat suhu panas telah memicu cuaca ekstrem berupa gelombang panas, curah hujan lebat, dan siklon tropis yang intens.

Analisis gabungan WMO dari delapan kumpulan data menyebutkan suhu permukaan rata-rata global adalah 1,44 °C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 °C) di atas rata-rata 1850-1900.

Dua dari kumpulan data ini menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam catatan 176 tahun, dan enam lainnya menempatkannya sebagai tahun terpanas ketiga.

Tiga tahun terakhir, 2023-2025, adalah tiga tahun terpanas di semua delapan kumpulan data. Rata-rata suhu tiga tahun gabungan 2023-2025 adalah 1,48 °C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 °C) di atas era pra-industri.

Sebelas tahun terakhir, 2015-2025, adalah sebelas tahun terpanas yang ada dalam delapan kumpulan data. “Tahun 2025 dimulai dan berakhir dengan La Nina yang mendingin, namun tetap menjadi salah satu tahun terpanas yang tercatat secara global karena akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer kita,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo. (*)